
Yogyakarta, 19 Maret 2025 – Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM, bersama dengan Prospect Institute, menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk Prospect Talks #46 Goes to Campus dengan tema “Pertanian Masa Depan: Inovasi Pertanian dan Peran CSR dalam Mewujudkannya”. Kuliah tamu ini menghadirkan narasumber yaitu Rinda Primawarto, Manager CSR PLN Nusantara Power, dan Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Pertanian UGM. Dalam acara ini, Dani Bina Margiana, Training, Certification, & Publishing Supervisor, memoderatori diskusi panel.
Kuliah tamu ini membahas tentang bagaimana Indonesia menghadapi berbagai tantangan strategis dalam pembangunan pertanian dan pedesaan. Tingginya laju pertumbuhan penduduk, ancaman perubahan iklim, degradasi sumber daya lahan, dan stagnasi regenerasi petani menjadi problematika serius yang perlu segera diatasi. Berdasarkan data Global Food Security Index (GFSI), posisi Indonesia terus merosot dalam tiga tahun terakhir, mencerminkan kondisi ketahanan pangan nasional yang belum optimal. Di sisi lain, transformasi digital dan munculnya generasi muda petani berbasis teknologi menciptakan peluang baru untuk memperkuat sektor ini secara berkelanjutan.
Dalam konteks inilah, peran Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi sangat penting sebagai bagian dari model pembangunan berbasis kolaborasi pentahelix. Kolaborasi ini melibatkan lima elemen utama: pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, masyarakat, dan media. CSR tidak hanya menjadi bagian dari strategi citra korporasi (image branding), tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam peningkatan produktivitas pertanian, optimalisasi sumber daya lokal, dan penguatan kapasitas kelembagaan petani.
Melalui pendekatan CSR yang terarah, korporasi dapat berkontribusi dalam berbagai aspek: mulai dari penyediaan infrastruktur dasar, pendampingan teknologi, peningkatan kualitas SDM petani, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis komoditas lokal. Sebagai contoh, kemitraan yang terbangun antara PT PLN melalui program CSR-nya dengan kelompok tani setempat menunjukkan bahwa public-private partnership mampu menjadi solusi terhadap berbagai keterbatasan sumber daya negara.
Lebih jauh, pelibatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pengembangan pertanian — seperti melalui DESA Apps yang dikembangkan UGM — memperkuat argumentasi bahwa CSR juga perlu diarahkan untuk mendukung digitalisasi pertanian. Keterlibatan aktif mahasiswa, peneliti, penyuluh, hingga pelaku bisnis dalam ekosistem ini menjadi wujud nyata dari pembangunan pertanian berkelanjutan yang inklusif dan adaptif terhadap tantangan zaman. Dengan demikian, perpaduan antara kontribusi CSR dan pendekatan pembangunan multistakeholders menjadi kunci dalam menciptakan sistem pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga berdaya saing dan berketahanan di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Penulis: Arsya Pradhipta Nuryan Siwi